Loka Karya Dayung & Renang: Cara PRSI Banjar Jaga Tradisi Lokal

Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan identik dengan julukan “Negeri Seribu Sungai”. Sejak zaman dahulu, air telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Banjar, mulai dari sarana transportasi, perdagangan di pasar terapung, hingga aktivitas domestik harian. Keterikatan yang kuat dengan sungai ini melahirkan berbagai keahlian alami, terutama dalam hal mendayung dan berenang. Namun, seiring dengan pembangunan infrastruktur jalan darat yang semakin masif, tradisi beraktivitas di sungai mulai sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh generasi muda. Untuk membendung arus perubahan tersebut, PRSI Banjar menyelenggarakan sebuah Loka Karya Dayung khusus yang bertujuan untuk menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap kearifan lokal yang berbasis perairan.

Kegiatan ini secara khusus menggabungkan dua elemen yang tidak terpisahkan dalam budaya sungai, yaitu dayung dan olahraga renang. PRSI Banjar menyadari bahwa kemampuan mengendalikan perahu tradisional atau jukung adalah warisan intelektual yang mengandung nilai sejarah tinggi. Dalam loka karya ini, para pemuda diajak untuk belajar kembali teknik mendayung yang efektif yang telah dipraktikkan oleh para tetua mereka. Dayung bukan hanya soal kekuatan lengan, tetapi soal bagaimana menyelaraskan tubuh dengan aliran sungai yang dinamis. Dengan menghadirkan kembali aktivitas ini dalam bentuk kompetisi yang menarik, PRSI berharap kegemaran beraktivitas di sungai dapat kembali menjadi tren di kalangan remaja Kalimantan Selatan.

Selain itu, sisi olahraga renang juga menjadi perhatian utama dalam kurikulum pelatihan ini. Berbeda dengan renang di kolam yang airnya tenang, berenang di sungai membutuhkan keterampilan ekstra dalam menghadapi arus dan perubahan kedalaman air. PRSI Banjar memberikan edukasi mengenai cara berenang yang aman di sungai tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan. Mereka juga memperkenalkan kembali gaya-gaya renang tradisional yang lazim digunakan oleh warga Banjar saat menyeberangi sungai besar. Integrasi antara teknik modern dan tradisional ini diharapkan dapat melahirkan atlet-atlet renang perairan terbuka yang memiliki daya tahan tubuh luar biasa karena sudah terbiasa dengan lingkungan alam yang menantang.

Upaya untuk tetap jaga warisan budaya ini memiliki dampak yang lebih luas terhadap sektor pariwisata dan identitas daerah. Sungai yang hidup dengan aktivitas mendayung dan berenang akan menjadi daya tarik eksotis bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. PRSI Banjar mendorong agar setiap desa di pinggiran sungai memiliki klub-klub kecil yang rutin mengadakan latihan dan festival air. Dengan demikian, sungai tetap bersih karena warga merasa memiliki dan membutuhkan air tersebut sebagai sarana olahraga dan rekreasi. Warisan leluhur tidak boleh hanya berakhir di museum, tetapi harus tetap hidup dan dipraktikkan dalam keseharian masyarakat modern.