Salah satu fokus utama dalam proses Maintenance Kolam adalah menjaga keseimbangan kimiawi air secara harian. Tim teknis di Banjar secara rutin melakukan pengujian terhadap kadar klorin dan tingkat keasaman air. Menjaga Standar PH Air pada kisaran ideal 7,2 hingga 7,6 adalah sebuah keharusan agar klorin dapat bekerja secara efektif membunuh kuman tanpa merusak kulit perenang. Jika kadar PH terlalu rendah (asam), air akan terasa pedih di mata dan dapat menyebabkan korosi pada peralatan kolam. Sebaliknya, jika PH terlalu tinggi (basa), air akan menjadi keruh dan klorin kehilangan kemampuannya untuk mendisinfeksi air secara maksimal.
Selain pengaturan kimiawi, sistem filtrasi fisik juga memegang peranan vital dalam menjaga kebersihan kolam di wilayah Banjar. Setiap hari, sebelum kolam dibuka untuk umum, petugas melakukan proses vakum dasar kolam untuk mengangkat endapan debu dan kotoran yang tidak terjangkau oleh sistem filter sirkulasi. Pembersihan saringan atau backwashing dilakukan secara berkala untuk memastikan aliran air tetap lancar dan tidak ada penyumbatan organik. Di bawah koordinasi PRSI Banjar, standar operasional ini ditingkatkan terutama saat musim hujan atau saat jumlah pengunjung meningkat tajam di hari libur, di mana beban kontaminan di dalam air menjadi jauh lebih besar dari biasanya.
Peran teknologi dalam Maintenance Kolam modern juga mulai diadopsi guna meminimalisir kesalahan manusia. Beberapa kolam renang di Banjar mulai menggunakan sensor digital yang mampu memberikan notifikasi secara real-time mengenai kondisi air melalui perangkat pintar. Teknologi ini memungkinkan petugas untuk segera melakukan tindakan koreksi tanpa harus menunggu jadwal pemeriksaan manual. Upaya menjaga agar air Tetap Aman ini juga mencakup pengawasan terhadap kebersihan lingkungan sekitar kolam, seperti area bilas dan ruang ganti, guna mencegah masuknya kotoran dari luar ke dalam sistem sirkulasi air utama.
Kesadaran akan pentingnya manajemen kolam yang profesional ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk kembali rutin berolahraga renang. Air yang jernih secara visual bukanlah jaminan bahwa air tersebut sehat secara bakteriologis; diperlukan komitmen jangka panjang dalam pemeliharaan yang berbasis sains.