Kejayaan di masa muda sering kali tidak menjamin kesejahteraan di masa tua, sebuah kenyataan pahit yang sering menimpa pahlawan olahraga kita. Fenomena atlet yang terlupakan menjadi potret buram manajemen olahraga di tanah air, di mana penghargaan terhadap dedikasi sering kali berhenti saat medali sudah tidak lagi dihasilkan. Di Banjar, terdapat sebuah kisah yang menyesakkan dada tentang seorang mantan juara yang pernah mengharumkan nama daerah, namun kini harus bertahan hidup di jalanan. Kisah ini bukan hanya tentang kemiskinan materi, melainkan tentang pengabaian sistemik terhadap manusia-manusia yang pernah memberikan seluruh hidupnya untuk prestasi bangsa.
Mantan perenang tersebut, yang pada masanya dijuluki sebagai legenda renang Banjar, dahulu adalah penghuni tetap podium tertinggi di berbagai kejuaraan nasional. Kecepatan dan tekniknya di lintasan air pernah menjadi inspirasi bagi generasi muda di masanya. Namun, seiring bertambahnya usia dan munculnya cedera kronis yang tidak tertangani dengan baik, namanya perlahan hilang dari percaturan olahraga. Tanpa adanya jaminan pensiun atau pendidikan formal yang memadai karena waktu mudanya dihabiskan di kolam renang, ia kini harus bekerja sebagai tukang parkir di salah satu sudut kota demi memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Transisi dari seorang pahlawan yang dipuja menjadi orang biasa yang tidak dikenal oleh orang yang lalu lalang adalah beban mental yang sangat berat. Setiap hari, ia berdiri di pinggir jalan, mengatur kendaraan di bawah terik matahari, sementara di rumahnya, medali-medali emas yang sudah mulai berkarat tersimpan di dalam kotak kayu tua sebagai satu-satunya bukti kejayaan masa lalu. Pengabdiannya selama belasan tahun seolah menguap begitu saja tanpa ada perhatian dari pemerintah daerah maupun organisasi olahraga terkait. Kisah ini menjadi peringatan keras bagi para atlet muda tentang pentingnya mempersiapkan hidup setelah masa pensiun dari dunia atlet.
Masalah utama dari fenomena ini adalah tidak adanya program pemberdayaan pasca-karier bagi para atlet. Seharusnya, seorang legenda yang memiliki segudang pengalaman bisa diberdayakan menjadi pelatih atau pemandu bakat di daerahnya. Namun, kurangnya sertifikasi resmi dan birokrasi yang rumit sering kali menjadi penghalang bagi mereka untuk kembali berkontribusi di dunia olahraga. Akibatnya, banyak talenta dan pengetahuan teknis yang hilang sia-sia karena para pelakunya sibuk berjuang mencari sesuap nasi di sektor informal yang tidak relevan dengan keahlian mereka.